Resolusi penulis Besok Siang di tahun 2019: bisa menyebarkan semangat kepada para rakyat Besok Siang untuk menjadi pribadi yang tidak faedah, hobi cangkeman, dan suka pertikaian.
Kan? Kurang tidak faedah apa resolusi kamitu?
Seperti biasa, setelah lama vakum menulis di Besok Siang SELALU DEK MON YANG DISURUH MENULIS DULUAN. Apalah arti hidup Arum tanpa Dek Mon? Arum itu bisanya cuma iyik: BINGUNG AKUTU MAU NULIS APA KALAU SUDAH LAMA VAKUM BEGINI.
Tsk.
Sudah tahu begitu, rakyat malah lebih mengidentikkan Besok Siang dengan Arum. Dek Mon ini kalian anggap apa? Serpihan tahi kucing yang terkubur dalam-dalam di dalam tanah? Asu og kalian. Falaw dulu Instagram saya @monicaagustami
Blog mana lagi sih yang suka mengasu-asukan pembacanya selain Besok Siang? Sini temenan. Eh, tidak. BERTIKAI SAJA! Lebih cepat untuk menaikkan popularitas. Apalah arti pertemanan dibandingkan dengan jumlah follower.
Saya itu ingin sekali bertikai dengan Arum, ingin malas temenan. Tapi nanti saja. Selain saya tidak pandai membuat drama, saya juga menunggu suaminya Arum memusuhi Dek Mon. Pasti Arum auto memusuhi Dek Mon.
Kalian nggak lupa kan alasan-alasan kenapa Besok Siang vakum? Kami ini penulis yang punya banyak alasan untuk tidak menulis. Jangan pernah lupa itu.
Beberapa bulan ini, saya wira-wiri ke beberapa provinsi. Ke Jakarta, Medan, bahkan sampai ke Papua. Tahun 2018 saya tidak ke Surabaya karena masih ((trauma)) dengan om-om di Surabaya. Saya jadi ingat cita-cita saya saat kecil, ingin jadi wanita karir yang memakai blazer, rok span, dan high heels. Wanita karir yang kerjaannya ke sana ke mari naik pesawat. Dan akhirnya sekarang saya merasakannya. Tapi nggak pakai rok span. Ha malah masuk angin pakai rok span di pesawat.
Senang cita-cita tercapai?
Boyoken coeq.
Tapi untungnya keluarga saya punya tukang pijet langganan. Jadi kalau lagi butuh jasanya, saya tinggal minta tolong Mami saya untuk manggil tukang pijet keluarga saya. Tukang pijetnya laki-laki ganteng gitu, ges! Uwuwuwuwu..
YO ORA LAH!
Tukang pijetnya itu ibu-ibu usia sekitar 50 tahun. Ibunya ini dulu kerja di salon spa begitu, nggak bilang sih pakai "plus-plus" nggak. Karena sampai sekarang saya dan Mami saya nggak tahu nama tukang pijet langganan kami, saya sebut saja Ibu Nurani. Kalian pernah dipijet tukang pijet tradisional? Bukan tukang pijet yang di tempat spa loh. Jadi, tukang pijet tradisional itu memiliki ciri khas.
Waktu itu punggung saya pegel biyanget, sakitnya di bagian tertentu. Beneran seperti kecethit begitu loh. Ketika jari Ibu Nurani tiba di bagian punggung saya yang sakit, Ibu Nurani langsung glegekan (bersendawa), "WAH, ANGINE METU, MBUAK."
Angin saya yang keluar, Ibu Nurani yang glegekan. Seru sekali kan ciri khas tukang pijet tradisional itu.
Awalnya saya sanksi, saya menganggap glegekannya Ibu Nurani itu dibuat-buat berdasarkan reaksi saya. Jadi misal ketika dipijet saya langsung, "Aduh duh, duh...." Ibu Nurani langsung bereaksi, "Ini saatnya glegekan!" Lalu saya pura-pura lempeng, walaupun dipijet di bagian yang terasa sakit, saya tahan dan pura-pura sudah tertidur. Eh, tapi ternyata Ibu Nurani tetap saja glegekan.
SERU KAN? Saya jadi menunggu-nunggu jari Ibu Nurani tiba di satu bagian tubuh saya yang nggak terasa sakit, tapi pas dipijet rasanya wuenak tenan. Saya menantikan suara glegekannya. Nagih!
Mengobrol dengan Ibu Nurani juga terasa seru karena membuat saya memiliki 3 karir goals.
Dek Mon: Sebelum ke sini mijet di mana, Bu?
Ibu Nurani: Itu deket sini kok.
Dek Mon: Oh, habis ini masih mau mijet lagi?
Ibu Nurani: Haruse, tapi AKU TU MALES, Mbak.
Dek Mon: Ha, lah kenapa? Capek?
Ibu Nurani: Ya, nggak. CUMA MALES AJA.
Dek Mon: Lah, nggak dapet duit dong?
Ibu Nurani: Ha males wae aku wis iso nyekolahke anak dua kok.
KARIR GOALS 1: malas bekerja, tapi bayar ini dan itu bisa.
Ibu Nurani: Ini ada yang minta pijet lagi, Mbak.
Dek Mon: Mbok ya diterima.
Ibu Nurani: Emoh ah, ini saja tak apusi kok.
Dek Mon: Weh, diapusi apa, Bu?
Ibu Nurani: Aku bilang ini mijetnya baru selesai jam 10 malam, HA-HA-HA.
Dek Mon: Weh, nanti kliennya mutung terus nggak pijet lagi di Ibu lagi loh.
Ibu Nurani: YOBEN. Klien ra bakal entek (klien nggak bakal ada habisnya).
KARIR GOALS 2: klien bukanlah raja, klien adalah rakyat karena hilang satu masih ada klien yang lain. PRINSIP.
Ibu Nurani: Aku tu juga males kalau rumah kliennya jauh, misal di Bantul sana. Uadoh.
Dek Mon: Loh, minta uang transport saja.
Ibu Nurani: Emoh.
Dek Mon: Ha kalau klien Ibu maksa ngasih uang transport?
Ibu Nurani: Tak jawab emoh, omah e adoh. Sing cerak we akeh, ngopo nggolek adoh.
KARIR GOALS 3: menjemput rezeki tidak perlu sampai Surabaya.
Tenang. Saya selaku rakyat yang baik sudah Follow ig dekMon dari jaman jadul. Pengikut yang selalu iri dalam hati kalo liatin bulu mata baday di tiap foto mu itu loh...
BalasHapusAku pernah nemenin temen pijet kan, nah yang mijet kaya gitu. Glegekan juga. Nang Purwokerto ora ana mbak...
Jangan iri, agar lama2 tidak menjadi sirik 👌
HapusWah, ndeso sekali tukang pijet Purwokerto, masak tidak bisa glegekan.
Hamdalah, junjunganQ ternyata hobi pijet juga. Padahal kukira mbakMon ini tipe-tipe wanita yang ((gelian)) lho 😂
BalasHapusTyda. Aku tipe wanita yang bikin geli :)
HapusSungguh ibu pijetnya menginspirasi karir tenan mbak mon
BalasHapusBetul.
HapusKesimpulan: tukang pijet adalah #kariergoals
BalasHapusYHA TUL.
HapusYa ampun, aku ngakak sampek nangis mbayangin glegekannya Bu Nurani :)'
BalasHapusIkut glegekan juga ndak?
Hapus