Kamis, 01 Desember 2016

[Cerbung] Air, Api, dan Tanah Chapter 3: Rahasia Bapak

Chapter 1 Andre

Chapter sebelumnya: Chapter 2 Keluarga Soedrajat

Aku membuka mataku perlahan. Aku mengedip-ngedipkan mataku, mencoba menyesuaikan penglihatanku dengan kondisi sekitarku. Ketika kuedarkan pandanganku, hanya kegelapan yang kudapatkan.

"Haloooooooo.. apa ada orang di sini?"

Hening.

"Haloooooooo.."

Keheningan kembali menyapaku.
Di mana aku?

Senin, 28 November 2016

Emang Prestasinya Apa? Ndeso!

Seorang teman saya sesama blogger pernah bilang, kalau Besok Siang ini dibikin karena penulis-penulisnya saling cocok, dalam artian punya cara pikir dan pendapat yang sama.

Bah! Siapa bilang?!

Setelah berkali-kali membaca beberapa artikel tentang pertemanan sehat, kami sampai pada kesimpulan bahwa tipe pertemanan kami nggak masuk sama sekali dalam kriteria pertemanan sehat. Jomblo shaming, body shaming, ghibah, saling menyinyir, sampai perbedaan pendapat yang berujung saling gas-gasan pakai huruf kapital semua dan saling lempar emoticon tai; menjadi rutinitas harian dalam percakapan kami.

Padahal kalau menurut artikel pertemanan sehat, teman itu nggak boleh saling menjatuhkan, nggak boleh marah-marahan kalau beda pendapat, nggak boleh bully fisik, harus saling menyemangati, dan seabrek aturan lainnya.

sumber: memecenter .com

Mungkin bukan pertemanan kami yang nggak sehat. Tapi mungkin karena kami memang bukan teman.

Itulah mengapa saya berani menulis post ini. Menurut aliran pertemanan sehat, mengkritik teman itu nggak boleh dilakukan di depan umum. Tapi kami kan bukan teman. Dan lagi saya bukan orang yang healthy freak. Jadi ya luweh!

Nah, siapa bilang Besok Siang penulisnya selalu punya cara pikir dan pendapat yang sama? Banyak kok cara pikir anggota lain yang bagi saya ndeso dan nggak masuk akal. Salah satunya adalah pola pikir yang selalu mempertanyakan prestasi. Itu NdesBang lho, gais! Ndeso Banget!

Kamis, 24 November 2016

[Cerbung] Air, Api, dan Tanah Chapter 2: Keluarga Soedrajat

Sumber: www.hipwee.com

Chapter sebelumnya: Chapter 1 Andre

Pintu gerbang perlahan terbuka, terlihat sosok Pak Unang yang menggeser gerbang tersebut. Mobil berjalan perlahan melewati pintu gerbang. Pagar rumah ini tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 2,5 meter dan terdiri dari 3 bagian dengan celah vertikal seperti teralis di setiap bagiannya, memberikan kesan melindungi tanpa membuat penghuninya menjadi terpisah dengan kehidupan sosial di luar rumah.

"Makasi, Pak Unang," kataku.

"Iya, sama-sama, Mbak," jawab Pak Unang, "Oiya, ini ada paket buat Mbak Rasha."

"Hah, paket saya udah dateng ya, Pak?!" tanya Rasha memastikan. Kemudian, Rasha segera menerima paket yang disodorkan oleh Pak Unang.
Rasha Soedrajat (089725886xxx)
Jl. Tentara No. 52, Yogyakarta 55289